Bermusik di Masjid

Jalan Kehidupan

Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, belakangan ini di beberapa tempat saya dapati masjid menjadi panggung musik bukan sekadar rebana, melainkan mulai dari ringtone ponsel yang tidak dimatikan saat shalat, konser musik di pekarangan masjid, musik pengantar berbuka puasa lewat pengeras suara masjid, dan bermusik di ruang ibadah masjid hingga mengalahkan orang yang sedang shalat sunah dan tadarus Al-Quran.

Saya pernah mempertanyakan hal ini kepada pengurus masjid, lalu dijawab bahwa ini adalah bagian dari syiar agama. Mohon penjelasan Ustadz tentang hal ini. Terima kasih.

Iskandar, Jakarta Selatan

View original post 303 more words

Advertisements

Merasakan Manfaat Al-Quran

“Pendengaran adalah pintu gerbang pertama masuknya ilmu pengetahuan pada manusia”

Jalan Kehidupan

Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Setelah bertahun-tahun saya membaca Al-Quran, bahkan beberapa kali khatam, tapi saya merasa ada yang keliru pada diri saya dalam berinteraksi dengan Al-Quran. Hingga saat ini, saya tidak paham dan agak sulit memahami walaupun sudah membaca terjemahan bahasa Indonesianya. Apa yang salah pada saya ustadz? Bagaimana caranya agar saya mendapatkan banyak manfaat dari Al-Quran untuk kehidupan saya. Terima kasih.

Hamba Allah

View original post 288 more words

Survey, Untuk Indonesia

“Menurut anda, Indonesia itu apa?”

Pertanyaan ini begitu menggelitik. Sederhana, tapi dalam. Kalau diibaratkan hujan, rintik tapi lebat.

Saat itu Minggu sore. Dan di Minggu sore yang sama seperti di awal paragraf, saya, berdua sobat karib saya, atau bertiga dengan Mas Anton si penjaga warung, sedang nongkrong di Saparua (warung ini sudah dibongkar sekarang, 3 hari sebelum saya mempublikasikan postingan ini). Kopi di meja, rokok di tangan. Kartu remi masih rapi di bungkusnya. Kami sedang tidak mood main poker, toh memang cuma bertiga.

Layaknya orang yang sedang nongkrong bareng, kami ngobrol. Berniat melawan sepi, kami bumbui pemandangan temaram lapang rumput yang membosankan itu dengan topik-topik ringan: Kampus, cuaca, info-info ter-update, dan… cewek. Wajar lah, kami cowok normal.

Lama kelamaan, topik-topik ringan mulai terasa basi. Info-info ter-update pun jadi ikut-ikutan basi karena terlalu sering diputar ulang. (Kembali) berniat melawan sepi, kami pun memutuskan untuk sok-sok-an berfilsafat. Gak perlu dijelaskan bahasannya apa ya, karena kami juga gak ngerti, saya juga lupa dan malas nginget. Ya jelas, yang satu mahasiswa Hubungan Internasional, yang satu lagi mahasiswa Kehutanan. Kalo dianalogiin sama makanan, bayangin aja bubur dicampur sama milkshake. Iya, milkshake-nya gak diminum dari gelas, tapi dicampurin ke bubur. Gak enak kan? Jangan dibayangin, please.

Oke, cukup intermezzo-nya, mari serius.

Entah mengapa, pokoknya kami jadi membicarakan Indonesia. Kami membahas tentang politikus-politikus brengsek yang menduduki kursi-kursi mahal di Senayan hanya untuk tidur siang dan browsing situs porno. Tentang media-media mainstream yang beritanya ditunggangi pihak-pihak tertentu. Tentang pertumbuhan ekonomi yang naik, dan dalam naiknya membawa serta derajat kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Tentang korupsi, tentang pasar bebas, tentang siapa sebenarnya dalang di balik G30S, dan tentang-tentang lainnya, hingga akhirnya kami membahas tentang… Kaum muda.

Sejarah membuktikan dengan gamblang, bahwa perubahan-perubahan besar dalam lini sejarah negeri ini selalu, dan selalu melibatkan kaum muda dalam porsi yang besar. Bukti pertama, proklamasi. Tanpa “penculikan” Soekarno ke Rengasdengklok, siapa yang bisa menjamin bahwa kita sekarang tetap merdeka? Tanpa ada Tan Malaka, siapa yang bisa menjamin legitimasi pemerintah yang masih seumur jagung itu untuk bisa berdiri tegak di hadapan Sekutu dan Jepang melalui “demonstrasi kekuatan” di Lapangan Ikada? Tanpa ada mahasiswa, hingga kapan rezim Soeharto akan berkuasa dan memeras Ibu Pertiwi di hadapan bangsanya sendiri? Kaum muda selalu berdiri di belakang, di tengah, dan di depan dalam medan sejarah Indonesia. Di meja rapat rahasia yang remang-remang, di antara warga yang marah, dan di hadapan moncong senapan yang terkokang. Kaum muda selalu, seharusnya.

Tapi kaum muda kini…

Kaum muda zaman sekarang, mengalami distorsi fungsi. Kami (ya, saya tidak munafik) jadi lembek. Kami, yang terlalu sering disuapi mimpi-mimpi kosong tentang The American Dream, telah berubah dari mesin penggerak bangsa menjadi mesin tari lantai disko. Kami lebih senang mengejar mimpi menjadi playboy daripada menjadi presiden.

Rapat-rapat gelap, yang dulu bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan yang tidak becus, sekarang berubah menjadi diskusi sesat di pinggir jalan tentang strategi untuk menggulingkan pintu minimarket terdekat dini hari esok untuk mencuri uang dan bir, tanpa harus peduli banyak pada penjaga toko yang sayangnya sudah kerja becus.

Tapi terlalu naif memang jika saya men-generelasisasikan semua kaum muda sesempit pernyataan-pernyataan di atas. Ya, tetap banyak yang bergerak. Tapi bergerak masing-masing, sporadis. Sudah jarang saya dengar remaja-remaja yang berkumpul bersama demi sebuah perjuangan “besar”. Kebersamaan tak punya tempat di prosa-prosa egosentris yang egois sekaligus.

Saya, dan sahabat saya, jadi penasaran. Kami ingin bertanya banyak, dan mendapat banyak jawaban tentang pertanyaan berikut:

“Di tengah gejolak pasar bebas dan globalisasi yang bergerak begitu cepat, apa kaum muda Indonesia masih mencintai Indonesia?”

“Apa kaum muda masih sadar bahwa ia adalah kekuatan penggerak terbesar dari pihak yang memegang kedaulatan tertinggi di negeri ini, yaitu rakyat?”

“Apa kaum muda masa kini masih peduli dengan peran besarnya terhadap nasib Indonesia 10-20 tahun ke depan?”

 

Menit demi menit berlalu, dan kami semakin jengah. Kami pun memutuskan untuk melakukan sesuatu: Menyebar survey. Survey untuk menjawab rasa penasaran kami. Survey untuk Indonesia.

Well, saya rasa cukup sudah intro-nya. Saya hanya ingin berbagi, berbagi dengan bertanya.

 

IMG_20131103_0008 IMG_20131103_0007 IMG_20131103_0006 IMG_20131103_0002 IMG_20131103_0003 IMG_20131103_0009 IMG_20131104_0004 IMG_20131103_0010 IMG_20131104_0003 IMG_20131104_0005 IMG_20131103_0012 IMG_20131104_0001 IMG_20131103_0011 IMG_20131104_0002 IMG_20131103_0005 IMG_20131103_0004

Terima kasih untuk:

Adhyasa Bagenda Putra

Odoy.Dynamo

Riandy Bandot Primagama

Nizar Lutfi Maulana

Natasha

Gaius Caesarian

Raja

Adriel Christian

Ticil

Anonymous

Ghina

Leony Reza

Yeyen

Anonymous 2

Anonymous 3

Fredy

Adri F.

Mr. X

Espiga

Anonymous 4

Arma

Ismail Anugrah Saputra

Ian

Harry Saptohadi Kayubi

Romy Dwiwahyu

Benny Sebayang

Ima

Andra Arvianty

Teguh M. Khairuddin

Bejo

Maryam Nisa

Anonymous 5

Galih Adika P.

Fany

Diana Regita

Fuad

Alexander Ginting (Bung Alex – GMNI)

Ade Adrianta S.

4 orang lainnya yang namanya tidak terbaca (maaf).

Dan nama-nama di form lainnya yang tidak sempat saya scan.

realis;monokrom

kita (hanyalah) tinta biru

di atas kertas biru

cipratan air di kemeja hitam

awan mendung di langit abu-abu

retak kecil di langit-langit kuning kusam

dan goresan pisau di talenan ibu

kita tak pernah menanamkan apa-apa

kita takkan pernah kehilangan apa-apa

dan kita akan (terus) begitu

hingga salju turun di merah putih

Orang-Orang Pinggir

ada orang-orang yang besar di pinggir

dengan gaya hidup sepele, dan mimpi-mimpi sepele

bajunya sudah seperti seragam sekolah

cuci-pakai, cuci-pakai

sampai jadi lap, atau keset, di akhir tahun

 

orang-orang pinggir ini

kalau berenang, jadi ikan

kalau berlari, seperti terbang

perutnya pun kuat,

berkat kudapan nasi setengah basi

tiap tengah hari

 

kerjanya naik-turun gunung

ambil-jual barang-barang yang baunya aneh

lucu dan aneh, ya, mereka?

terang saja aneh, toh kau dan mereka beda dunia

 

mau kukenalkan?

 

ayo, tapi ada syaratnya (tak banyak, kok)

pertama, lepas dulu kacamata kuda-mu

biar bisa lirik kiri-kanan

namanya juga orang pinggir

kalau tak pernah melihat ke pinggir

ya takkan kelihatan

 

sudah? sekarang,

ayo ke warung dan seduh kopi seribu

tapi jangan ngomel, di sana tak ada macchiato

dan luwak cuma merk.

gak bikin sakit perut, kan?

nah, sekarang ayo jalan-jalan sebentar

walaupun namanya orang-orang pinggir,

mereka suka tinggal di bawah

bawah jalan layang,

bawah jembatan…

pokoknya bawah

 

kaget, ya?

ya ini rumah orang-orang pinggir

ibu, bapak, dan anak-anaknya

semua tidur disini, dan bermimpi abu-abu disini

di tempat yang biasa kau lempari puntung rokok dari kaca mobil

 

sekarang apa lagi?

mau coba makanan mereka?

tapi langit sudah mulai gelap

dan hembusan angin sudah mulai kencang,

tak baik bagimu yang biasa pakai AC

kau pulang saja

sebentar lagi teman-temanmu kan mau jemput

ke tempat kau biasa nari-nari sampai pagi

besok atau kapan-kapan saja kita kesini lagi

tapi jangan lupa

kau kan sudah kukenalkan, jadi…

lain kali kau yang kenalkan mereka pada duniamu

kasih tau mereka bagaimana rasanya makan enak…

deal?